Menu

Sejak 1995

Grosir kain denim & jeans di Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Semua Artikel By Jaya Manunggal

5 Hal yang Harus Dipertimbangkan Brand Sebelum Memilih Kain Denim

Panduan Bahan Kain Denim Denim Fabric Tips Memilih Denim Bahan Jeans Denim Indonesia Fashion Brand Textile Supplier JM Textile Tips Fashion Brand Denim Fashion

Memilih kain denim untuk sebuah koleksi bukan sekadar mencari warna biru yang terlihat menarik. Di balik sebuah jeans yang nyaman, outer yang terlihat premium, atau jaket dengan struktur yang kuat, ada pemilihan bahan yang harus dipikirkan sejak awal.

Setiap jenis denim memiliki karakter yang berbeda. Ada yang ringan dan nyaman untuk penggunaan sehari-hari, ada yang lebih kokoh untuk menghasilkan siluet yang tegas, hingga denim dengan stretch yang memberikan fleksibilitas saat dikenakan.

Bagi sebuah brand, pemilihan bahan yang tepat dapat menentukan bagaimana sebuah produk terlihat, terasa, dan digunakan oleh konsumen.

Lalu, apa saja yang perlu diperhatikan?

1. Tentukan Karakter Produk yang Ingin Dibuat

Sebelum memilih kain, tentukan terlebih dahulu produk seperti apa yang ingin dibuat.

Apakah denim tersebut akan digunakan untuk jeans, jacket, shirt, skirt, atau produk lainnya?

Setiap produk membutuhkan karakter bahan yang berbeda. Jeans dengan potongan structured misalnya, akan membutuhkan bahan yang mampu mempertahankan bentuk. Sementara itu, produk yang mengutamakan kenyamanan sehari-hari bisa mempertimbangkan denim dengan karakter yang lebih ringan atau memiliki sedikit stretch.

Mulai dari desain produknya, baru tentukan kainnya.

Dengan begitu, kain yang dipilih tidak hanya terlihat bagus saat masih berupa bahan, tetapi juga bekerja dengan baik ketika sudah menjadi produk jadi.

2. Perhatikan Ketebalan dan Berat Kain

Salah satu hal penting dalam memilih denim adalah ketebalan atau berat kain.

Denim yang lebih ringan biasanya terasa lebih fleksibel dan cocok untuk produk yang membutuhkan movement lebih banyak. Sementara denim dengan bobot yang lebih tinggi cenderung memberikan struktur dan karakter yang lebih kuat.

Namun, kain yang lebih berat bukan berarti selalu lebih baik.

Semuanya kembali pada konsep produk dan target pemakaian. Brand perlu mempertimbangkan bagaimana bahan tersebut akan terasa ketika dikenakan dan bagaimana tampilannya setelah melalui proses produksi.

3. Pilih Karakter Stretch yang Sesuai

Untuk produk seperti jeans, tingkat stretch juga menjadi faktor yang penting.

Denim non-stretch dapat memberikan karakter yang lebih rigid dan authentic, sementara denim dengan stretch menawarkan fleksibilitas yang lebih tinggi ketika digunakan.

Pemilihannya kembali pada kebutuhan produk.

Jika desain mengutamakan struktur dan karakter denim yang kuat, bahan non-stretch bisa menjadi pilihan. Sebaliknya, untuk produk yang mengutamakan kenyamanan dan pergerakan, denim dengan stretch dapat dipertimbangkan.

Jangan hanya melihat apakah kainnya stretch atau tidak. Pahami juga bagaimana stretch tersebut mendukung desain yang ingin dibuat.

4. Jangan Abaikan Warna dan Karakter Permukaan

Warna denim bisa terlihat berbeda setelah masuk ke proses produksi dan finishing.

Indigo, black, grey, hingga berbagai pilihan wash memiliki karakter visual masing-masing. Selain warna dasar, brand juga perlu memperhatikan tekstur, permukaan, slub, efek wash, dan karakter visual lainnya.

Hal ini penting terutama bagi brand yang memiliki identitas visual tertentu.

Kain dengan warna dan tekstur yang tepat dapat membantu memperkuat karakter sebuah koleksi dan membuat produk lebih mudah dikenali.

5. Pertimbangkan Proses Produksi dan Target Pasar

Ini bagian yang sering terlupakan.

Kain yang terlihat menarik belum tentu menjadi pilihan yang tepat apabila tidak sesuai dengan proses produksi dan target konsumen.

Brand perlu mempertimbangkan beberapa hal seperti:

  • Jenis produk yang akan dibuat

  • Teknik cutting dan sewing

  • Proses washing atau finishing

  • Tingkat kenyamanan yang diinginkan

  • Harga jual produk

  • Karakter konsumen yang dituju

Dengan mempertimbangkan hal tersebut sejak awal, proses pengembangan produk dapat menjadi lebih terarah.